KUNINGAN – Tangis kecil, tawa malu-malu, dan senyum lega menghiasi wajah anak-anak di Lapangan Parkir Pendopo Kuningan, Kamis (28/8/2025). Sebanyak 150 anak dari berbagai pelosok Kuningan datang, bukan sekadar untuk menjalani khitan, tapi juga merasakan pelukan hangat dari kepedulian banyak pihak.
Bagi sebagian keluarga, biaya khitan seringkali menjadi beban tersendiri. Namun pagi itu, wajah-wajah penuh harap tampak berganti menjadi lega. Usai dikhitan, setiap anak menerima bingkisan berupa baju koko, sarung, peci, dan uang panyecep. Bagi mereka, hadiah itu bukan hanya sekadar barang, melainkan simbol kasih sayang dari masyarakat untuk anak-anak bangsa.

“Alhamdulillah, sekarang anak saya sudah dikhitan. Selain gratis, dapat juga bingkisan. Terima kasih kepada panitia,” ucap Yani, seorang ibu dari Desa Kalimanggis, matanya berkaca-kaca.
Tak hanya anak-anak yang mendapatkan perhatian. Hari itu, lebih dari 300 warga ikut menikmati layanan pengobatan massal. Dari konsultasi penyakit dalam, pemeriksaan jantung, hingga layanan untuk ibu hamil—semua tersedia tanpa biaya. Sebuah kesempatan berharga, terutama bagi mereka yang jarang mendapat layanan medis lengkap.
Hj. Ela Dian Rachmat Yanuar, Ketua LKKS Kabupaten Kuningan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata kepedulian. “Kami ingin lebih banyak masyarakat merasakan manfaatnya. Jika masih ada yang belum terlayani, kami siap jemput bola hingga ke kecamatan,” ujarnya penuh semangat.

Kebersamaan itu makin terasa karena kegiatan ini melibatkan banyak pihak: rumah sakit, tenaga medis, organisasi profesi, hingga para donatur. Semua bergerak dengan satu tujuan, memberi kebahagiaan bagi sesama.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, pun tak kuasa menutupi rasa bangganya. “Inilah wajah keguyuban masyarakat Kuningan. Masalah sosial tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah saja, melainkan tanggung jawab bersama. Sinergi hari ini adalah bukti bahwa kita kokoh dalam kebersamaan,” katanya.
Hari itu, anak-anak pulang dengan langkah ringan, sebagian masih meringis kecil menahan perih, tapi senyum mereka lebih besar dari rasa sakit yang dirasakan. Mereka bukan hanya pulang sebagai “pengantin sunat”, melainkan juga pembawa harapan bahwa di Kuningan, kepedulian masih nyata, gotong royong masih hidup, dan cinta untuk sesama masih terus bersemi.(Admin).
